Kamis, 21 Mei 2015

CMS (Content Management System)

Sistem manajemen konten

Sistem manajemen konten (Inggriscontent management system, disingkat CMS)[1], adalah perangkat lunak yang digunakan untuk menambahkan atau memanipulasi (mengubah) isi dari suatu situs web. Umumnya, sebuah CMS (Content Management System) terdiri dari dua elemen:
·         aplikasi manajemen isi (Content Management Application, CMA)
·         aplikasi pengiriman isi (content delivery application, CDA)
Elemen CMA digunakan untuk mengelola konten yang mungkin tidak memiliki pengetahuan mengenai HTML untuk mengelola pembuatan, pengubahan, dan penghapusan isi dari suatu situs web tanpa perlu memiliki keahlian sebagai seorang webmaster. Elemen CDA menggunakan dan menghimpun informasi-informasi yang sebelumnya telah ditambah, dikurangi atau diubah oleh pemilik situs web untuk memperbaharui situs web tersebut. Kemampuan atau fitur dari sebuah sistem CMS berbeda-beda. Walaupun begitu, kebanyakan dari perangkat lunak ini memiliki fitur publikasi berbasis Web, manajemen format, kontrol revisi, pembuatan indeks, pencarian, dan pengarsipan.
CMS merupakan situs web yang menerapkan sistem ini berorientasi terhadap konten. Sudah bukan merupakan kendala yang berarti bagi manajemen atau humas suatu perusahaan/institusi/organisasi untuk memperbaharui situs webnya. Dengan hak akses dan otoritas masing-masing, setiap bagian dari perusahaan/intitusi/organisasi dapat memberikan kontribusinya kedalam website tanpa prosedur yang sulit.
Pada umumnya sebuah CMS memiliki 2 bagian kategori yaitu bagian Front-end dan Back-end.
Kecanggihan dan fitur masing-masing CMS bergantung pada CMS yang digunakan. Penggunaan sistem hirarki pengguna yang diterapkan CMS dalam hak aksesnyapun sangat bervariasi sesuai CMS masing-masing. Mulai dari level akses user anggota yang hanya dapat mengirimkan data tertentu berupa komentar, kemudian editor yang dapat mengirimkan suatu artikel/berita (untuk CMS yang menyediakan fasilitas ini), hingga level administrator yang dapat melakukan semua fitur yang ada.
Keberadaan aplikasi gratisan di Internet dan juga komunitas sumber terbuka yang semakin menjamur ikut memberikan andil yang signifikan untuk menjadikan teknologi CMS menjadi murah dari segi harga akan tetapi dengan fitur-fitur yang semakin lengkap dan canggih. Dari segi biaya implementasi pembuatan CMS sangatlah murah apalagi jika dibandingkan dengan fitur-fitur dan kemudahan yang ditawarkan. Hal inilah yang akhirnya ikut mempopulerkan CMS dan akhirnya akan menggantikan semua website konvensional yang ada.
Salah satu perangkat lunak Content Management System yang dikenal luas yaitu MediaWiki, perangkat lunak yang dipakai di Wikipedia dan proyek-proyek sejenis.

Perangkat lunak CMS[Drupal

·         Joomla
·         Wordpress
·         Plone
·         VBulletin
·         Moodle
·         MediaWiki
·         Opencart

Pemanfaatan CMS

·         Situs web perusahaan, bisnis, organisasi atau komunitas.
·         Portal
·         Galeri foto
·         Aplikasi E-Commerce.
·         Mengelola website pribadi/ blog.

·         Situs web pembelajaran daring (Inggris: e-learning)

PERBEDAAN CMS DAN BLOG
CMS (singkatan dari Content Management System) adalah sebuah aplikasi yang digunakan untuk mengelola website, seperti update dan maintenance, sehingga bisa dilakukan dengan efektif dan efisien. Dengan CMS ini maka perubahan isi website atau content bisa dilakukan dengan mudah. Setiap penulis atau editor dapat menggunakannya setiap saat tanpa perlu mengetahui hal-hal teknis. Setiap kali ada perubahan terhadap isi website, tidak perlu berhubungan dengan webmaster. Dengan demikian pengelolaan sebuah website akan menjadi lebih efisien. Contoh CMS antara lain phpNuke, joomla, mambo, drupal, dll.
Sedangkan Blog adalah website yang memuat tulisan atau artikel secara periodik, dan biasanya ada interaksi dengan user (memberi komentar).   Aplikasi blog sebenarnya adalah CMS juga, tetapi dia lebih spesifik dalam artian bahwa skalanya lebih kecil dibanding website. Fungsinya biasanya digunakan sebagai catatan harian, media publikasi dan lain-lain (bebas). Contoh Blog yg populer adalah wordpress.

Sumber:  Wikipedia

10 NEGARA TERBAIK DI ERA DIGITAL

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mempengaruhi perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat. Bahkan, pertumbuhan ekonomi saat ini pun mendapat pengaruh besar dari pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Hal ini dikenal dengan istilah digital economy atau ekonomi digital.

    Berbeda dengan konsep ekonomi konvensional, dalam ekonomi digital, teknologi informasi dan telekomunikasi memegang peranan penting dalam aktivitas ekonomi dan sosial. Era ekonomi digital ditandai dengan perkembangan format bisnis atau transaksi perdagangan yang memanfaatkan internet sebagai media komunikasi dan interaksi antar perusahaan atau pun individu yang biasa disebut dengan istilah electronic business (e-business) atau electronic commerce (e-commerce).


    Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Boston Consulting Group di tahun 2001, bagi negara berkembang, peningkatan penetrasi internet sebesar 10 persen akan meningkatkan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar 1-2 persen. Studi lain juga menyatakan bahwa pada negara berkembang, setiap penambahan 10 mobile phone per 100 jumlah penduduk akan mendorong peningkatan PDB sebesar 0,59 persen.


    Pesatnya dampak ekonomi digital di dunia membuat lembaga riset Economist Intelligence Unit melakukan pemeringkatan terhadap berbagai negara atas keberhasilan mereka dalam memanfaatkan TIK dalam meningkatkan perekonomian atau yang dikenal dengan Digital Economy Ranking. Pemeringkatan yang dilakukan pada tahun 2010 ini dilakukan kepada 70 negara di dunia dengan penilaian meliputi kriteria, yaitu konektivitas dan infrastruktur teknologi, iklim usaha, lingkungan sosial dan budaya, kepastian hukum, visi dan kebijakan pemerintah, serta konsumen dan adopsi usaha. Berikut 10 negara terbaik di ekonomi digital:


1.    Swedia


Keberhasilan Swedia menjadi negara yang menempati peringkat pertama sebagai negara yang sukses masuk dalam era ekonomi digital ditunjang oleh pelaksanaan rencana strategis implementasi broadband yang dikeluarkan oleh pemerintahnya pada tahun 2009. Terintegrasinya segala aspek kehidupan masyarakat, seperti sistem transportasi, sistem perbankan, fasilitas medis, serta layanan pendidikan menjadi kunci sukses Swedia memasuki era ekonomi digital. 


Selain itu, dari sisi infrastruktur, kecepatan internet menjadi hal yang memberikan pengaruh besar dalam pertumbuhan ekonomi Swedia yang pada tahun 2010 mencapai angka 5,5 persen. Swedia sendiri tercatat sebagai negara ketiga yang memiliki kecepatan internet tertinggi di dunia.


2.    Denmark


Predikat negara kedua terbaik dalam penerapan TIK sebagai pendukung perekonomian memang pantas disandang oleh Denmark. Dengan penetrasi internet yang mencapai 86,80% per 100 penduduk pada tahun 2010 serta penetrasi social media, khususnya Facebook, yang cukup tinggi 48,50% penduduk menjadikan budaya e-commerce tumbuh cukup pesat ditengah-tengah masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan total nilai perdagangan nasional melalui internet (e-commerce) pada tahun 2010 yang mencapai 74,98 miliar euro atau nilai perkapitanya sebesar 1.059,90 euro. 


Tak hanya masyarakat yang mulai memanfaatkan e-commerce pada konsumsi hariannya, pemerintah pun mulai memanfaatkan channel dalam government spending. Nilai e-commerce untuk government spending ini sendiri di tahun 2010 sebesar 1,57 miliar euro. Menjamurnya e-commerce tentunya menjadikan Denmark sebagai negara kedua terbaik dalam implementasi ekonomi digital.


3.    Amerika Serikat


Sejak tahun 2001, Amerika Serikat berhasil mendirikan unit kerja yang bertanggung jawab penuh dalam pengembangan electronic government (eGovernment). Unit ini berhasil mengembangkan United State eGovernment Strategy yang memiliki visi untuk meningkatkan kualitas layanan pemerintah kepada masyarakat, pebisnis, serta sesama pemerintah agar lebih efektif dan efisien. Salah satu kebijakan Amerika Serikat yang dapat dijadikan benchmark adalah pengembangan data.gov. Website yang diluncurkan pada tahun 2009 ini berfungsi sebagai portal informasi data pemerintahan Amerika Serikat yang dapat diakses oleh masyarakat, dunia bisnis, maupun lembaga pemerintahan lainnya. 


Selain dukungan kebijakan pemerintah tersebut, budaya e-commerce ditengah masyarakat juga menjadi pendukung keberhasilan implementasi TIK dalam meningkatkan perekonomian. Tahun 2009, transaksi e-commerce di negara terkuat dunia ini tercatat sebesar US$144,24 miliar.


4.    Finlandia


Dengan jumlah populasi pada tahun 2010 sebesar 5,4 juta penduduk, penetrasi internet di Finlandia mencapai 82,50%. Tak banyaknya jumlah penduduk ini menjadi salah satu kunci sukses pengembangan ekonomi digital di Finlandia. Diawali dengan pengembangan electronic government (eGovernment) beberapa tahun belakangan, Finlandia pun secara paralel mulai mengembangkan berbagai channel bisnis digital.


Keberhasilan ekonomi digital dari negara yang PDB per kapitanya pada tahun 2009 yang mencapai US$44.491 ini ditunjukkan dengan nilai total perdagangan melalui e-commerce yang mencapai 54,13 miliar euro pada tahun 2010. Dengan kata lain, nilai e-commerce per kapita tahun 2011 dari negara yang penetrasi Facebook-nya sebesar 36,70 persen ini adalah 798,59 euro.


5.    Belanda


Dukungan kehandalan layanan data sangat dibutuhkan dalam perkembangan ekonomi digital. Semakin terkoneksinya suatu negara, maka semakin banyak peluang untuk meningkatkan produktivitas. Selain konektivitas, kualitas akses juga sangat penting. Semakin besarnya ukuran data pada lalu lintas internet, semakin membutuhkan kualitas akses yang semakin baik pula, dan dengan harga yang terjangkau. Inilah yang menjadi dasar kuatnya ekonomi digital di Belanda.


Tak main-main investasi yang dilakukan oleh pemerintah negara ini. Sejak tahun 2009, mereka telah berhasil mengimplementasikan jaringan broabband 4G di negaranya. Dampaknya pun cukup signifikan, terlihat dari nilai total perdagangan melalui e-commerce yang meningkat dari 1,8 juta euro pada tahun 2002 menjadi 12,8 juta euro pada tahun 2009.


6.    Norwegia


Keberhasilan implementasi TIK dalam pertumbuhan ekonomi tak dapat dilepaskan dari besarnya konsumsi individu dan perusahaan dalam mengakses layanan teknologi informasi dan komunikasi, memanfaatkan berbagai macam fitur internet, aktivitas pembelian online, serta seberapa besar pemanfaatan online public service. Hal inilah yang menjadi kunci sukses Norwegia dalam mengimplementasikan ekonomi digital. Sejak 2007, penetrasi internet di negara yang beribukota Oslo ini mencapai 87,5%. Tingginya penetrasi internet ini memiliki dampak besar bagai dunia bisnis dengan sebanyak 75 persen perusahaan pada tahun 2011 telah menggunakan aplikasi mobile pada aktivitas kerjanya. 


Tak hanya itu, di masyarakat pun pembayaran online telah menjadi bagian tak terpisahkan. Terlihat dari 65 persen penduduk menggunakan cara ini dalam transaksinya sehari-hari selama tahun 2011.


7.    Hong Kong


Hingga April 2011, penetrasi internet di Hong Kong telah mencapai 84 persen dengan rata-rata subscribe melalui mobile phone atau device lainnya adalah 1,96 per orang. Selain itu, keberhasilan Hongkong dalam ekonomi digital juga terlihat dari keberhasilannya dalam meningkatkan kecepatan internet dan menurunkan biaya telekomunikasi menjadi terjangkau seluruh lapisan masyarakat. 


Selain itu, pada Mei 2011, Boston Consulting Group memaparkan hasil studi posisi Hong Kong sebagai digital city terbaik dunia. Dalam studi tersebut, dukungan kuat pemerintah dalam pembangunan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi serta kebijakan keterbukaan informasi menjadi kunci sukses pembangunan ekonomi digital di Hong Kong.


8.    Singapura


Salah satu kriteria yang menjadi penilaian dalam Digital Economy Ranking ini adalah iklim usaha yang mencakup kondisi negara dalam hal kekuatan ekonomi, pajak, peraturan persaingan usaha, tenaga kerja, dan keterbukaan terhadap perdagangan dan investasi. Singapura menjadi negara yang memiliki iklim usaha terbaik pada pemeringkatan ini. Hal ini didukung oleh laporan Doing Business 2012 yang menyatakan Singapura sebagai negara dengan peringkat pertama dalam hal kemudahan mendirikan usaha. 


The Global Enabling Trade Report tahun 2010 juga menyebutkan Singapura berhasil menempati posisi pertama sebagai negara yang sangat terbuka terhadap investasi dan perdagangan internasional. Keberhasilan Singapura dalam menjaga iklim usahanya ini pun tak lepas dari komitmennya dalam mengembangkan budaya e-commerce ditengah-tengah masyarakat. Tak hanya itu, dikembangkannya e-registration bagi usaha kecil dan menengah juga menjadi faktor pendukung keterbukaan negara kecil ini terhadap perdagangan.


9.    Australia


Berbicara tentang kebijakan ekonomi digital oleh pemerintah, mungkin Australia merupakan negara yang fenomenal. Tahun 2009, negeri Kanguru ini berhasil menelurkan sebuah rencana strategis bertajuk Australia’s Digital Economy: Future Direction. Kebijakan yang berada dibawah pengawasan Department of Broadband, Communication and the Digital Economy ini memaparkan dengan jelas peran pemerintah serta stakeholder lainnya dalam pengembangan ekonomi digital, kebijakan industri pendukung ekonomi digital, serta inovasi-inovasi andalan negara ini sebagai penunjangnya. 


Mendukung rencana strategis tersebut, pada bulan Mei 2011, pemerintah Australia kembali melakukan gebrakan dengan mensahkan National Digital Economy Strategy yang juga mendukung terciptanya National Broadband Network yang akan menjadi kunci sukses penerapan ekonomi digital di tahun 2020.


10.     Selandia Baru


Perubahan dalam dunia pendidikan Selandia Baru menjadi fondasi kuat pengembangan ekonomi digital di negara tersebut. Konsep e-learning yang dikembangkan sejak awal tahun 2000-an merupakan pilihan pemerintah untuk menjembatani kesenjangan pendidikan Selandia Baru. Demi menunjang implementasi e-learning, pemerintah melibatkan berbagai stakeholder dalam Collaborative Development Fund (CDF) sebagai pendanaan proyek tersebut. Kesiapan Selandia Baru dalam pengembangan e-learning menjadikan negara ini mendapatkan niai tertinggi pada  kriteria lingkungan sosial dan budaya dalam Digital Economy Ranking ini.


(redaksi@wartaekonomi.com)

Sumber: Warta Ekonomi No.10/2012